DATA QUALITY SELF ASSESMENT PROGRAM IMUNISASI DI KABUPATEN BREBES

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on Juni 17, 2009 by wawanboyhealth

KERANGKA ACUAN
DATA QUALITY SELF ASSESMENT PROGRAM IMUNISASI
DI KABUPATEN BREBES

oleh : Ismawan Nur Laksono
Latar Belakang
Kebijakan Program Imunisasi untuk menekan angka kematian akibat PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi) adalah dengan mencapai cakupan imunisasi yang tinggi secara merata. Pencapaian imunisasi lengkap dioperasionalkan dalam UCI (Universal Child Immunization) di Desa. Untuk mengetahui data UCI Desa yang akurat diperlukan pencatatan dan pelaporan yang berkualitas.
Dalam upaya menilai dan menjaga kualitas pencatatan dan pelaporan data imunisasi, pada tahun 2004, WHO memperkenalkan alat penilainya berupa Data Quality Self Assesment (DQS) di Indonesia. Komponen yang dinilai melalui perangkat ini meliputi akurasi data dan kualitas sistem pemantauan data imunisasi. DQS adalah alat untuk menilai kualitas sistem pencatatan dan pelaporan data hasil imunisasi.
Pada pelaksanaan akurasi data pada tahun 2007 di Kabupaten Brebes telah ditemukan underreporting (cakupan yang dilaporkan lebih sedikit daripada hasil yang berhasil diverifikasi) dan overreporting (cakupan yang dilaporkan lebih banyak daripada yang berhasil diverifikasi) untuk pelaporan hasil imunisasi DPT3 dan Campak dari desa ke puskesmas. Dari temuan diatas terbukti bahwa kualitas data cakupan imunisasi dari desa ke puskesmas sebagai tingkat pertama pelaporan masih kurang.
Untuk memperoleh gambaran kualitas pencatatan dan pelaporan program imunisasi di tingkat puskesmas di kabupaten Brebes perlu dilakukan penilaian dengan DQS. Penilaian DQS di puskesmas sangat penting, oleh karena data hasil imunisasi mulai dikumpulkan pada tingkat ini. Bila data pada tingkat puskesmas tidak dapat diyakini kualitasnya, maka data di nasional juga akan tidak berkualitas. Pada tingkat puskesmas mungkin terjadi kesalahan-kesalahan dalam pencatatan dan pelaporan karena data hasil imunisasi dihimpun dari berbagai sumber unit pelayanan imunisasi baik pemerintah maupun swasta kemudian direkapitulasi dan dilaporkan. Proses pencatatan dan pelaporan ini mempunyai risiko terjadinya ketidakakuratan data hasil imunisasi yang dilaporkan. Sehingga untuk menjaga data tetap berkualitas dan akurat kegiatan pencatatan pelaporan perlu dipantau secara rutin dan teratur. Diharapkan dengan melakukan DQS di tingkat Puskesmas akan meningkatkan kualitas pencatatan dan pelaporan data imunisasi di Puskesmas.
Tujuan Umum :
Menilai kualitas pencatatan dan pelaporan di Puskesmas serta menemukan upaya pemecahan masalah yang ditemukan untuk meningkatkan kualitas sistem pencatatan dan pelaporan.

Tujuan Khusus :
1. Mengidentifikasi alur pencatatan dan pelaporan di puskesmas
2. Mengetahui tingkat akurasi laporan cakupan imunisasi dengan verifikasi atau penghitungan ulang data imunisasi
3. Mengetahui persentase kelengkapan dan ketepatan waktu pelaporan dari Puskesmas ke Kabupaten
4. Mengetahui kualitas sistem pemantauan program imunisasi
5. Mengetahui kekuatan dan kelemahan sistem pencatatan dan pelaporan serta memberikan rekomendasi berdasarkan hasil temuan penelitian.
Metode
1. Menggambarkan alur pencatatan dan pelaporan
a. Kumpulkan sumber informasi pencatatan dan pelaporan hasil pelayanan imunisasi mulai dari unit pelayanan (Posyandu, Puskesmas, Pustu,Polindes, BPS, RS, RB, dokter, dll). Pencatatan berdasarkan nama bayi harus dapat ditelusuri karena merupakan tingkat pencatatan yang paling rendah yang harus dihitung ulang atau diverifikasi.
Sumber informasi pelaporan : buku rekapitulasi cakupan atau laporan bulanan hasil imunisasi di Puskesmas
b. Tanyakan dan gambarkan alur pencatatan dan pelaporan
2. Verifikasi data
a. Dilakukan dengan menghitung ulang data dari register desa, buku pelayanan dalam gedung, laporan swasta dan membandingkannya dengan jumlah imunisasi yang dilaporkan pada laporan bulanan/ rekapitulasi Puskesmas. Berikut langkah-langkah penghitungan ulang atau verifikasi data hasil pelayanan imunisasi desa dengan laporan/rekapitulasi Puskesmas.
1) Memilih 3 desa secara acak untuk melakukan verifikasi data cakupan. (dengan undian)
2) Menentukan minimal 2 jenis vaksin yang akan diverifikasi secara acak
3) Periode verifikasi data adalah data imunisasi bulan Januari- Desember 2008.
4) Mengumpulkan semua dokumen-dokumen pencatatan dan pelaporan di tingkat desa terpilih. Misalnya buku register bayi desa dan laporan puskesmas.
5) Untuk setiap desa terpilih, lakukan verifikasi data dari register desa dengan menghitung satu demi satu bayi yang diimunisasi dengan antigen yang ditentukan, memisahkan bayi-bayi yang berumur lebih dari satu tahun, dan yang berasal dari luar wilayah desa tersebut. Kemudian mencatatnya dengan melidi lalu dijumlahkan dalam format yang disediakan
6) Hasil penghitungan ulang hasil imunisasi bulanan desa dicocokkan dengan laporan bulanan Puskesmas untuk desa tersebut. Bila terdapat selisih, temukan penyebab-penyebabnya.
3. Kualitas sistem pemantauan di Puskesmas
Penilaian kualitas sistem pemantauan imunisasi di Puskesmas dilakukan dengan wawancara dan pengamatan terhadap komponen sistem pemantauan, yaitu :
1. Data demografi
2. Pencatatan
3. Pelaporan dan pengarsipan
4. Ketersediaan data dan formulir
5. Penggunaan data
Langkah-langkah dalam menilai kualitas sistim pemantauan imunisasi
a. Mengumpulkan dokumen : laporan bulanan puskesmas, register imunisasi, hasil sweeping, PWS, dan analisisnya, dokumen hasil pertemuan dan hasil supervisi petugas Kabupaten, Buku stok vaksin
b. Mengisi kuesioner penilaian kualitas sistem pemantauan melalui wawancara, pengamatan, dan memeriksa dokumen.
Data yang harus disiapkan :
1. Semua Buku register/kohort bayi imunisasi di desa terpilih dari bulan Januari sampai Desember 2008
2. Semua buku pencatatan di tingkat posyandu (SIP jika ada) dari Januari – Desember 2008
3. Laporan bulanan imunisasi tingkat puskesmas dari bulan Januari- Desember 2008
4. Buku stok vaksin, PWS, hasil Sweeping imunisasi

Analisis Kepuasan dan Hubungannya dengan Loyalitas Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Dedi Jaya Kabupaten Brebes Tahun 2008

Posted in Uncategorized on Juni 17, 2009 by wawanboyhealth

PROGRAM MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

ADIMINISTRASI RUMAH SAKIT

UNIVERSITAS DIPONEGORO

2008

ABSTRAK

Ismawan Nur Laksono

Analisis Kepuasan dan Hubungannya dengan Loyalitas Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Dedi Jaya Kabupaten Brebes

xiv + 98 + 34 tabel + 5 gambar + 5 lampiran

Rumah sakit Dedi Jaya merupakan rumah sakit yang paling baru di Kabupaten Brebes yang mulai operasional sejak bulan April 2006, selama dua tahun ini telah dilakukan upaya-upaya peningkatan kualitas pelayanan rumah sakit baik berupa bangunan fisik, sarana peralatan penunjang medis, maupun sumber daya manusia (medis dan non medis) guna mempersiapkan akreditasi rumah sakit.  Walaupun telah dilakukan upaya pemasaran dan pengembangan secara terus menerus oleh rumah sakit  Dedi Jaya namun angka BOR rumah sakit Dedi Jaya  pada tahun 2007 masih rendah yaitu sebesar 37,27. khususnya untuk kelas II dan kelas utama yaitu  sebesar 10,24 dan 22,26. Bahkan pada tahun 2007 terjadi penurunan persentase pendapatan rawat inap dibanding tahun 2006. Berdasarkan data dan fakta  ditemukan adanya permasalahan di rumah sakit dari segi produk, proses, dan purna beli sehingga dapat menyebabkan terjadinya penurunan tingkat kepuasan pasien, dan mengurangi minat pasien untuk melakukan pembelian ulang (loyalitas). Tujuan dari Penelitian ini adalah Menganalisis kepuasan pelanggan rawat inap dan hubungannya dengan loyalitas Pelanggan di Rawat Inap Rawat inap Rumah Sakit Dedi Jaya Brebes. Penelitian ini dibatasi hanya untuk memotret pelanggan rawat inap dan upaya untuk mempertahankannya, maka faktor pengaruh lingkungan seperti pesaing, jarak, dan transportasi tidak akan diteliti

Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan metode survei melalui pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien rawat inap yang dirawat di RSDJ pada kelas I,II,II, dan Utama pada tahun 2008 pada  1 bulan terakhir sejumlah 150 pasien. Sampel yang diambil sejumlah 60 orang. Hasil Penelitian ini dilakukan dengan  metode analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan Sofware SPSS for Windows versi 11.0.

Hasil Penelitian yang dilakukan dengan uji chi-square didapatkan p value 0,0001 (p<0,05) sehingga hipotesa nol ditolak dan ada hubungan antara tingkat kepuasan dengan tingkat loyalitas pasien rawat inap rumah sakit Dedi Jaya. Sebagian besar responden (43,3%) berada dalam kategori Failure yaitu pelanggan yang  Tidak puas dan tidak loyal, kategori Forced loyalty (dipaksakan loyal) yaitu pelanggan yang tidak puas tetapi loyal sebesar 11,7%, kategori Defector (Penyeberang) yaitu pelanggan yang puas tapi tidak loyal sebesar 8,3%, sedangkan yang berada dalam kategori Successes (pelanggan loyal dan kemungkinan melakukan word of mouth positif) sebesar 36,7% . berdasarkan hasil tersebut telah disusun Switching Barrier(ringtangan pengalihan) dan Voice (Penanganan keluhan) untuk meningkatkan kepuasan dan loyalitas pasien rawat inap RSDJ.

Kata kunci : Kepuasan, Loyalitas, Rawat Inap, Rumah Sakit,

Kepustakaan 28 (1984-2007)

Sistem Pencatatan dan Pelaporan Program Imunisasi

Posted in Uncategorized on Juni 11, 2009 by wawanboyhealth

kalu ada yang mau program imunisasi… cra bikin PWS, strategi desa UCI, sistem manajemen stok vaksin, dan analisa tindak lanjut….hubungi email saya…wawanboy_health@yahoo.com

Survey Cepat Cakupan Imunisasi di Kabupaten Brebes Tahun 2009

Posted in Uncategorized on Juni 11, 2009 by wawanboyhealth

RINGKASAN EKSEKUTIF

Informasi yang diperoleh dari pelaporan dan pencatatan rutin dianggap tidak dapat mengungkapkan  alas an bayi/ibu yang tidak mendapatkan pelayanan imunisasi. Oleh Karena itu perlu sebuah survei cakupan imunisasi untuk mengetahui cakupan imunisasi yang sebenarnya sebagai pembanding data dari laporan rutin.

Survei cakupan imunisasi bertujuan untuk menilai cakupan imunisasi rutin pada bayi, cakupan perlindungan bayi terhadap TN pada saat lahir dan cakupan imunisasi TT pada ibu.

Metode survei cakupan imunisasi menggunakan metode sample klaster 2 tahap dengan 30 klaster. Sampel terdiri dari 210 anak berumur 12-23 bulan untuk mengevaluasi cakupan imunisasi dasar pada anak dan 210 anak berumur 0-11 bulan untuk mengetahui cakupan imunisasi TT pada ibu dan mengetahui apakah anak mereka terlindungi dari Tetanus Neonatal pada saat dilahirkan.

Hasil survei cakupan imunisasi pada anak usia 12-23 bulan berdasarkan kartu maupun berdasarkan kartu dan riwayat ternyata menunjukan masih dibawah target..Sebesar 60,5 % anak telah diberikan imunisasi dasar lengkap berdasarkan kriteria lengkapnya imunisasi berdasarkan kartu maupun berdasarkan riwayat. Berdasarkan kelengkapan dan kevalidan imunisasi dengan melihat interval pemberian imunisasi ternyata diperoleh hanya 25,2% anak yang masuk dalam kriteria pemberian imunisasi lengkap.

Tempat imunisasi yang paling banyak dikunjungi adalah Posyandu dan puskesmas. Alasan kegagalan berdasarkan informasi paling besar disebabkan oleh takut akan efek samping (10,8%). Menurut faktor motivasi responden sebagian besar memilih untuk menunda imunisasi di lain waktu (7,5%). Hambatan terbesar dari pemberian imunisasi pada bayi adalah karena pada saat imunisasi anak sakit dan tidak dibawa untuk diimunisasi (26,%). Sebagian besar  informasi pentingnya lima imunisasi dasar lengkap (LIL) diperoleh dari media audio visual (83,5%) sedangkan yang bersumber dari petugas kesehatan sebesar 16,5%.

Cakupan imunisasi TT pada ibu berdasarkan kartu masih dibawah target yaitu T1 5,2% dari target 90% dan T2 11,0% dari target 80%. Sedangkan cakupan imunisasi TT berdasarkan kartu imunisasi dan riwayat sudah melebihi dari target yaitu T1 94,8% dari target 90% dan T2 89,0% dari target 80%. Tempat pelayanan imunisasi TT sebagian besar adalah di posyandu yaitu 22,2 % sedangkan terendah adalah di RS swasta 0,5 %.

Cakupan bayi yang terlindungi TN sebesar 39,5% berdasarkan kartu dan berdasarkan kartu dan riwayat sebesar 91,4%. Cakupan ibu yang memiliki kartu imunisasi sebesar 78,1%.

Dari hasil survei cepat cakupan imunisasi tersebut telah banyak diperoleh informasi mengenai cakupan imunisasi sehingga survei cepat cakupan imunisasi perlu secara berkala dilakukan untuk perbandingan dengan hasil pencatatan dan pelaporan rutin imunisasi. Upaya untuk menuju perbaikan sistem dan dan format pencatatn pelaporan program imunisasi perlu terus dilakukan, sosialisasi LIL (Lima Imunisasi dasar Lengkap) oleh petugas kesehatan perlu terus ditingkatkan, penyuluhan ,advokasi dan komunikasi tentang efeksamping imunisasi dan pentingnya kartu imunisasi perlu terus dilakukan dan ditingkatkan sehingga apa yang menjadi harapan bagi program imunisasi dapat terwujud.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.